stenblog.com – Di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, Perdana Menteri India Narendra Modi mengambil langkah diplomasi langsung dengan menghubungi Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Pembicaraan telepon tersebut terjadi pada malam hari sekitar 12-13 Maret 2026, menjadi salah satu upaya paling krusial New Delhi untuk melindungi kepentingan energi dan keselamatan warganya.
Menurut pernyataan resmi dari kantor PM Modi yang diposting di platform X, Modi menyampaikan “keprihatinan mendalam atas eskalasi ketegangan, hilangnya nyawa sipil, serta kerusakan infrastruktur sipil”. Ia menekankan bahwa prioritas utama India adalah “keselamatan dan keamanan warga negara India, serta kelancaran transit barang dan energi tanpa hambatan”.
Fokus utama pembicaraan adalah situasi di Selat Hormuz, jalur vital yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman. Selat ini menjadi titik rawan sejak konflik memanas, dengan Iran menerapkan pembatasan atau blokade parsial sebagai respons terhadap serangan AS-Israel terhadap fasilitas nuklirnya. Akibatnya, lebih dari 20 kapal tanker berbendera India atau menuju pelabuhan India—terutama yang mengangkut minyak dan gas—terjebak atau terancam di kawasan tersebut.
Beberapa sumber media India seperti NDTV dan News18 melaporkan bahwa setidaknya dua kapal tanker LPG India, yaitu Pushpak dan Parimal, berhasil melintasi Selat Hormuz dengan aman sesaat setelah pembicaraan Modi-Pezeshkian. Duta Besar Iran untuk India, Mohammad Fathali, juga secara terbuka menyatakan bahwa Teheran akan mengizinkan kapal-kapal India melintas dengan aman melalui selat tersebut.
“Ya, karena India adalah sahabat kami,” ujar Fathali dalam pernyataannya, sebagaimana dikutip berbagai media. Iran menegaskan bahwa keputusan ini mencerminkan hubungan baik bilateral, meski dalam konteks ketegangan regional yang tinggi. Beberapa laporan menyebut jumlah kapal yang terdampak mencapai 20-28 unit, termasuk tanker minyak dan gas yang sangat penting bagi pasokan energi India.
Langkah diplomasi ini bukan tanpa tantangan. Sebelumnya beredar rumor dan klaim di media sosial bahwa Iran menolak permintaan Modi, bahkan ada spekulasi soal pertukaran pembebasan tiga kapal tanker Iran-linked yang disita India pada Februari 2026 karena dugaan pelanggaran sanksi. Kementerian Luar Negeri India melalui Fact Check Unit membantah klaim penolakan tersebut sebagai hoaks, dan Menteri Luar Negeri Subrahmanyam Jaishankar menegaskan tidak ada “pengaturan rahasia” atau kesepakatan blanket—setiap kapal ditangani secara kasus per kasus melalui komunikasi diplomatik.
Pembicaraan ini juga menunjukkan posisi India yang hati-hati: menjaga netralitas sambil melindungi kepentingan nasional. India bergantung besar pada impor energi dari Teluk, dan penutupan berkepanjangan Selat Hormuz berpotensi memicu krisis bahan bakar domestik. Di sisi lain, New Delhi terus menyerukan de-eskalasi, dialog, dan penghormatan hukum internasional.
Para analis menilai inisiatif pribadi Modi ini sebagai contoh diplomasi energi yang efektif, di mana hubungan historis India-Iran dimanfaatkan untuk menghindari dampak terburuk bagi perekonomian. Meski begitu, situasi di kawasan tetap dinamis, dan pemantauan ketat terhadap Selat Hormuz terus dilakukan.
Update terbaru: artikel ini diperbarui otomatis.

